Lemah kontrol, picu lemahnya kualitas

Senin, 20 September 2010

Hari ini adalah hari pertamaku untuk kembali mengajar disekolah setelah hampir 2 bulan Istrahat karena ada undangan mengisi Materi di Kendari dan Libur Ramadhan. Kini, aktivitas mengajar itu harus kembali dilakoni untuk mengisi waktu serta menguatkan ilmu yang telah dipelajari. Kata Orang, salah satu cara untuk menguatkan ilmu yang dimiliki adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Rumahku dengan sekolah cukup jauh dan harus melewati lautan dengan mendayung. Waktu tempuh jika mendayung, sekitar 40 menit. Kalau gunakan ketinting, waktu tempuhnya sekitar 10 menit sudah sampai dipulau tersebut. Lumayan….! Olahraga pagi dengan mendayung, menguatkan otot-otot lengan. Sesampainya di pulau itu, kebetulan disana ada rumah lama yang saat ini ditinggali oleh nenek dan family lain. Kurebahkan diri sejenak sebelum siap-siap ke sekolah.
Waktu telah menunjukan pukul 07.43 Wita ketika sampai disekolah. Sebagian siswa sedang berolahraga. Main Sepak raga (Takraw). Aku langsung menuju kantor yang kebetulan sudah terbuka (sering saya tiba disekolah, kantor masih terkunci) dan membaca buku TIK yang yang ada diatas meja. Beberapa saat kemudian, salah seorang guru tidak tetap juga datang. Pada hari senin, jam belajar dimulai pada pukul 08.00 Wita karena antara pukul 07.00-08.00 adalah waktu upacara. Akan tetapi, selama saya mengajar ditempat itu, belum pernah saya dapatkan adanya upacara bendera. Siapa yang akan menjadi Pembina upacara? Kepala sekolah sangat jarang muncul disekolah. Guru tetap juga sama. Bahkan lebih parah. Guru tidak tetap? Siapa? Masing-masing datang saat waktu ngajar tiba.
Tepat pukul 08.00 Wita menurut jam handphoneku, kumasuk kelas untuk dan seperti biasa melakukan sweeping pakaian yang keluar dan rambut-rambut yang panjang serta pirang agar dicukur. Memang, selama ini aku menyaksikan kenyataan bahwa siswa-siswa kami memiliki kekurangan dalam banyak hal. Entah mungkin karena disengaja atau karena kurang penegakan disiplin atau karena factor lain, kesimpulan itu belum bisa kupastikan. Kesimpulan sementara adalah karena kurangnya control dan ketegasan dari pihak sekolah untuk memberikan sanksi kepada siswa yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap aturan sekolah.
Usai mengajar, kumasuk kembali ke kantor untuk menanti jam berikutnya sambil mendengarkan lantunan suara merdu dari Syaikh Muhammad Al Luhaidan di handphone NEXCOM kesayangan.
Selama di sekolah, pikiran ini disibukkan dengan kenyataan bahwa sekolah tempat saya mengajar ini terdapat sangat banyak kekurangan yang perlu perbaikan secapatnya. Kadang-kadang tak habis piker, apakah SMP Satap ini dibangung hanya untuk menampung siswa di kampung saja agar mereka sekolah dan mendapatkan dana BOS serta BOP dan dana lain ataukah memang untuk membina siswa menjadi berkualitas? Yang berkualitasnya siswa merupakan cermin meningkatnya kualitas pendidikan?
Memang, kita sangat mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bahkan kitapun harus menjadi elemen yang membantu pemerintah dalam proses peningkatan kualitas itu. Tetapi, apakah kualitas pendidikan itu akan meningkat jika tidak ditopang dengan tenaga pendidik yang berkualitas sesuai dengan profesinya? Apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika tidak ada pembangun bagi motivasi siswa untuk maju? Apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika tidak ada interaksi yang baik antara tenaga pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran maupun pembinaan mental dan potensi peserta didik? Dan apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika para pelaku pendidikan seperti kepala sekolah tidak melakukan control terhadap sekolahnya dimana dia memimpin?
Jujur, disekolah tempat saya mengajar masih jauh dari kualitas yang kuat. Tenaga pendidik yang mestinya menjadi pengayom dan pengontrol aktivitas siswa sangat kurang. Bahkan hampir tidak ada. Tercatat, PNS hanya 2 orang termasuk kepala sekolah. Satu guru PNS sudah hampir 4 bulan belum Nampak disekolah setelah selesainya ujian Nasional. Kepala sekolah juga demikian. Dari pengumuman kelulusan sampai sekarang belumlah juga menjenguk murid2nya. Dimana fungsi control sang pemimpin? Bukankah ini akan menyebabkan lemahnya motivasi guru lain dalam menjalankan tugasnya? Bukankah akan menimbulkan perasaan tertentu dari siswa bahwa mereka tidak diperhatikan layaknya sekolah lain? Mestinya, kepala sekolah dan guru tetap intens memberikan control kepadal seluruh perangkat yang ada disekolah. Karena, Guru tidak tetap tidak memiliki hak untuk membuat kebijakan umum maupun khusus jika tidak disetujui dan diketahui oleh kepala sekolah. Lalu, dimanakah fungsi control itu saat ini? Apakah memang fungsi itu tidak ada? Ataukah fungsi itu hanyalah sebuah formalitas sebagai syarat berdirinya sebuah sekolah? JIka demikian adanya, apa guna ada sekolah? Apa guna pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk pembangunan fisik pendidikan jika ternyata hanya menjadi sarana keuntungan pihak tertentu saja dan juga menjadi sarana lemahnya kualitas pendidikan?
Berani saya katakan bahwa tidak adanya atau kurangnya fungsi control dari pimpinan menjadi sebab lemahnya kualitas pendidikan. Apalagi di sekolah yang tenaga pendidiknya kurang. Baik kurang dari sisi pengalaman maupun profesi. Pimpinan, yang memiliki fungsi utama sebagai pengatur jalannya proses pendidikan di sekolah harusnya menjadi pioner dalam peningkatan kualitas. Harusnya menjadi solusi bagi setiap permasalahan disekolah. Harusnya menjadi tempat mengadu akan kekurangan aspek-aspek penunjang pendidikan. Akan tetapi, dimana siswa dan guru harus mengadu jika pimpinan tidak ada di sekolah selama berbulan-bulan? Dimana siswa dan guru mencari solusi jika sang pimpinan tidak menampakkan dirinya di tempat dimana bertugas? Kalaupun datang hanya sehari atau dua hari saja lalu kembali ke asal? Dimana peran sang pimpinan sebagai pioneer jika pimpinan apatis terhadap kualitas pendidikan dimana dia memimpin?
Kalaupun ada yang diberikan kewenangan untuk mengelola sekolah selama pimpinan tidak ada, tetap saja pimpinan yang dibutuhkan. Seberapa besar peran orang yang diberikan mandate. Sedikit sekali.
Tulisan ini sama sekali bukan untuk menceritakan buruknya tingkat pendidikan disekolah yang lemah control sang pemimpin. Akan tetapi agar tulisan ini menjadi perhatian bagi para pemerhati pendidikan. Agar menjadi bahan perhatian bagi pemerintah, kepala sekolah, guru dan siswa bahwasanya ada trigger yang menyebabkan kualitas pendidikan itu lemah. Kuatnya keinginan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus juga mempertimbangakan aspek-aspek jangka panjang yang mungkin kadang terabaikan. Para siswa yang jauh dari control dan ayoman pimpinan dan tenaga pengajar berkualitas hendaknya bersabar akan perlakuan ini. Tetaplah belajar dan terus belajar agar cita-cita anda tercapai.

Antara Sanana dan Kendari

Ketika saya bangun tidur di siang hari, kucek handphone nexcom kesayangan, ada pesan masuk dari seorang teman di Kendari. Kubaca:
“Ka. Lab. Komputasi SMP 2 Kendari mau pindah. Beliau cari pengganti. Antum mau? Sekalian antum mengajar di SMP3. Insya Allah saya mengajar Ms. Office di SMP 2”
Demikian bunyi sms yang masuk. Bayang-bayang Kota Kendari dan hiruk pikuknya kembali memasuki alam pemikiran ini. Kali ini ada tawaran jadi kepala Labkom. Sungguh peluang dan kesempatan yang jarang didapatkan. Apalagi sekolah ini adalah salah satu sekolah faforit di Kota Kendari. Akan tetapi, mungkinkah?
Mungkinkan sekolah akan memanggil orang swasta untuk menjadi kepala Lab di sebuah sekolah Negeri? Kalaupun ia, layakkah saya untuk itu?
Sms dari teman ini belum kutelusuri sampai ke akar-akarnya karena belum ada pulsa untuk mereplynya.
Pikiran ini kembali terangsang untuk melalangbuana. Antara ke Kendari, untuk memenuhi tawaran itu. Kalaupun tawaran itu tidak jadi saya bias mengajar disana karena salah satu SMP negeri di Kota Kendari untuk mengajar dan yang mengajak langsung adalah Kepala Sekolahnya usai memberikan materi pelatihan untuk mereka di Waintek FMIPA Unhalu.
Kalau saya layak dan mau menjadi kepala Labkom di SMP 2 Kendari dan mengajar di SMP 3 Kendari, berarti saya harus menunda keinginan untuk mencari peluang di negeri lain. Disisi lain, ada keinginan untuk ke Sanana (kep. Sula) untuk mencari peluiang disana. Disana ada saudara perempuan yang mengikuti suaminya. Rencana, tes CPNS disana. Ada perbedaan besar antara di Sultra dan di Kep. Sula dalam hal penerimaan CPNS. Di sini, harus ada uang naik yang besarnya melebihi uang walimah dan biaya studi. Bahkan bias lanjut S2. Sedangkan disana, tidak ada pungutan liar dalam penerimaan PNS. Nuansa sogok menyogok dapat dikatakan tidak ada dalam penerimaan CPNS karena memang aturannya tidak ada pungutan liar. Sedangkan di Sultra khususnya di Kab. Tempat saya, luar biasa. Harus punya duit banyak dan koneksi kalau ingin menjadi PNS. Walaupun, ada juga yang tidak mesti pakai duit. Disana (Sanana) juga biasanya lebih dahulu menerima CPNS. Artinya, setelah tes disana bias kembali untuk tes di Sultra. Siapa tahu ada rejeki.
Sebenarnya, menjadi PNS bukan cita-cita utama saya. Kalau menjadi Dosen, Alhamdulilla. Saya ingin menjadi orang bebas yang tidak terikat oleh aturan instansi tertentu. Harus kadza wa kadza yang kadang-kadang menyepelekan syariat. Saya ingin menjadi ikan besar walaupun di kolam kecil. Bukan ikan kecil yang berkeliaran di kolam besar. Kalaupun harus menjadi demikian, tetap saja harus disyukuri karena itu adalah rejeki. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Siapa tahu, Allah memang menakdirkan untuk menjadi PNS.

ANAK BANGSA CERDAS, ANAK BANGSA YANG BERKARYA

Kucoba untuk kembali memahami potensi diri yang kumiliki. Beberapa potensi ini rupanya terabaikan. Terbukti, tidak ada karya nyata yang dihasilkan dari potensi ini. Biarbagaimanapun, aku adalah seorang sarjana. Sarjana Sains lagi. Sarjana yang terdidik dan terbina untuk menjadi seorang ilmuwan. Untuk menjadi seorang cendekia. Untuk menjadi seorang pemikir yang banyak berkarya, inovasi dalam mengembangkan hal-hal yang semestinya untuk dikembangkan. Betapa bangsa ini sangat membutuhkan insan-insan inofatif, kreatif dan berdaya guna agar tidak terjajah oleh bangsa lain. Agar potensi sumber daya Alam yang banyak di negeri ini tidak diambil alih oleh bangsa asing. Agar potensi sumber daya manusia cerdas yang dimiliki bangsa ini tidak digunakan untuk kemajuan bangsa lain. Agar bangsa ini maju. Segala bidang kehidupan harus dikuasai agar tidak mudah diperbodohi oleh bangsa lain. Agar tidak mudah dijajah oleh bangsa lain. Penjajahan secara ekonomi maupun penjajahan secara militer. Bangsa ini harus diperkuat disegala aspek kehidupan. Dan ini akan terjadi manakala masing-masing insan dinegeri ini menyadari akan kebutuhan bangsa ini akan dirinya. Masing-masing insan harus menyadari untuk kemudian bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Harus ada reformasi personal agar terbentuk insan yang kuat, insan yang beriptek dan insan yang berimtaq. Insan kuat inilah yang nantinya akan menjadi generasi pembangun, pengganti generasi yang lemah yang berorientasi kapitalis. Menggantikan generasi yang memikirkan keuntungan pribadi, generasi yang korup, generasi yang memiliki mental dan akhlaq yang bejat dan kotor. Generasi yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan serta generasi yang sombong. Generasi yang merasa telah berbuat banyak untuk bangsa padahal mereka adalah perusak, harus tergantikan dengan generasi baru yang kuat dan tegar.
Dan generasi baik ini akan terbentuk apabila mulai detik ini kawula muda sebagai penerus bangsa ini dibina dengan pembinaan yang kontinu. Pembinaan akhlaq dan mental, pembinaan aqidah serta pembinaan akan kualitas diri dalam membentuk generasi pribadi yang tangguh, generasi pribadi yang tangguh dapat membentuk keluarga yang kokoh, terbina masyarakat yang kuat dan akan berakhir pada kekuatan bangsa. Ya....! Harus ada pembinaan pribadi-pribadi yang tangguh untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk masyarakat, untuk bangsa dan negara, lebih-lebih lagi untuk agamanya. Insya Allah

TEMAN LAMA MENYAPA

Di sore hari yang tenang, hanya di beberapa titik terdapat awan yang tidak berpotensi hujan lebat, Kulangkahkan kaki menuju mesjid untuk menunaikan shalat Ashar berjamaah. Adzan telah berkumandang, namun tidak menggunakan speaker karena listrik dikampungku hanya di hidupkan dimalam hari saja kecuali hari Ahad dan hari libur. Hidupnya pun hanya pada pukul 10.00 Wita – 15.00 Wita. Bersyukur jika mulai hidup pukul 10.00. Kadang-kadang, lampu dihidupkan nanti pada pukul 11.00 Wita. Shalat Ashar tertunaikan bersama dengan teman-teman Remaja yang Alhamdulillah memang intens menghidupkan shalat berjamaah dimesjid ini. Mesjid An Nur Pola namanya. Mesjid kami ini sebenarnya sudah tua dan kecil. Entah sudah berapa tahun mesjid ini berdiri dengan megah dipinggir pantai. Aku tah tahu. Mesjid baru sudah sejak lama akan dibangun, namun yang baru nampak hanya pondasi dan tiang. Mesjid baru ini desainnya cukup megah. Dengan interior dan eksterior yang megah. Maklum, mesjid kecamatan katanya. Akan tetapi, sampai saat ini proses pembangunan mandeg karena kendala biaya. Secara perlahan-lahan, panitia sedang berusaha mendapatkan dana untuk melanjutkan pembangunan mesjid kami ini.

Hati menjadi tenang setelah mengerjakan shalat Ashar. Langkah kaki menjadi ringan, semangat kembali bangkit setelah menunaikan kewajiban ini. Ba’da shalat Ashar, kupulang kerumah dan mengambil kunci motor untuk menuju lapangan mini di kampung tengah untuk menyaksikan pertandingan futsal yang telah memasuki babak semifinal. Sesampainya disana, kira-kira sekitar 20 m dari lapangan pertandingan ku cek FB yang kumiliki. Kulihat Inbox, ada satu tambahan surat masuk. Kubuka, ternyata surat itu dari teman waktu di MAN dari kelas 1 sampai kelas 3.

Kubaca suratnya:

“Assalamu’alaykum, afwan apa ini dengan Arbin Mutasman Alumni MAN Kota BAru Raha? Selama ini pernah ketemu sama Azizah, Aida, Ana dan Umi Shalehah?”

Kujawab suratnya :

“Wa’alaikumsalam, selama kuliah hanya Aida yang belum pernah saya ketemu. Ini dengan Salma teman satu kelas kah?”

Teman saya ini namanya Salmawati. Teman-teman yang disebutkan diatas adalah teman-teman akrab boleh dikata. Dan sama merekalah biasa nongkrong saat tidak aktifitas belajar. Banyak cerita bersama mereka. Tapi nampaknya saat ini bukanlah suatu hal yang penting lagi.

Kunanti jawabannya sambil menyaksikan jalannya pertandingan antara FC Pola Sentral VS Tompano. Beberapa menit kemudian, kembali kucek Inbox. Ada jawaban lagi. Kubaca :

“Ya betul, Apakah ada no HPnya mereka”?

Kubalas lagi:

“Hanya Aida yang ada. Tapi saya tidak hafal. Saya logout dulu untuk cek nomornya”.

Sebelum kulogout, kucek dahulu profilnya. Soalnya, saya pernah dengar dari seorang teman yang dulu juga satu kelas (III IPA) kalau dia ini sekarang sudah pakai jilbab besar. Pastinya, anak pengajian. Dan benar rupanya, dari info yang kuperoleh dari profilnya kalau dia ngaji salaf juga di Universitas Sam Ratulangi Manado.

Jadilah aku nda nonton lanjutan bola sampai selesai. Ku pulang kerumah. Masuk kamar dan mencatat nomor yang akan kuberikan sama teman ini. Kumasuk kembali FB, balas Inbox darinya dengan mengirimkan nomor teman yang diminta. Sambil kutanya aktifitasnya dimana dan ngaji dimana. Cerita terus berlanjut dan dari info yang kuperoleh darinya, kalau dia ngaji sama Ust. Adnan di Manado dan bulan Agustus kemarin menyelesaikan studinya di jurusan Fisika FMIPA Universitas Sam Ratulangi dan saat ini sedang melanjutkan PPGnya. Profesi sepertinya. Semisal Akta IV. Rupanya dia sama dengan saya. Jurusan FIsika, FMIPA dan S.Si. Hanya bedanya dia ambil dengan Akta sedangkan saya belum berminat.

Ada rasa senang tersendiri ketika mengetahui teman-teman telah menyelesaikan studi lanjutan. Ini berarti, sebagian teman-teman seangkatan telah memiliki modal untuk menjadi orang sukses. Tercatat, sudah hampir 10 orang anak III IPA yang telah selesai dan hampir selesai. Walaupun sudah banyak juga telah nikah. Seorang teman (mantan ketua OSIS) telah lulus AKMIL. Sekarang telah menjadi pasukan Amfibi. Dialah yang paling unggul saat ini dari sisi dunia. Ada juga teman yang nama Aida sedang KOAS untuk mendapatkan gelar Dokternya di salah satu Universitas di Surabaya. Ada juga teman yang sudah menjadi wartawan, guru dan sebagian saya belum tahu.

Saya sendiri, orang yang menurut mereka dulu sang Juara, walau telah usai S1 akan tetapi lebih memilih untuk pulang kampung dahulu, mengabdi disebuah sekolah negeri di Kampung kelahiran, membina intelektual dan mental mereka untuk menjadi generasi kampung yang cerdas dan termotivasi. Walaupun baru sekitar 7 bulan mengajar. Tentu saja, sambil mencari peluang-peluang lain agar bias dapat modal untuk MODAL sekolah dan Walimah pastinya. Dari pada nganggur, mending isi waktu dulu mengajar. Dan saya dipercaya untuk mengajar Matematika dan IPA. Saya bias ambil dengan TIK akan tetapi jadwal saya sudah cukup padat. Pergi mengajarnya saja pake perahu. Mendayung.

Yang paling saya senangkan adalah ada teman yang komitmen untuk berislam secara kaffah. Menjalankan ajaran agama ini dengan benar sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf. Dan yang kutahu, baru teman yang nyapa ini ngaji salaf. Mudah-mudahan yang lain juga ada yang ngaji salaf.

Ada juga rasa sedih ketika sadar bahwa ternyata ada juga teman SMA yang ngikut ajaran menyimpang. Bahkan beberapa kali debat dengannya. Dari diskusi yang terjadi, nampaknya doktrin yang begitu kuat telah melekat padanya sehingga telah kental dengan ajaran menyimpangnya.

Sebenarnya, ada kerinduan dalam jiwa ingin bertemu dengan teman-teman SMA seangkatan. Ingin tahu keadaan mereka dan ingin berbagi. Sudah lebih 6 tahun lebih berpisah dengan mereka. Ada kenangan-kenangan yang terlewatkan bersama. Semoga suatu hari bisa berkumpul dalam sebuah acara Reuni.

Kubiarkan tantangan itu Menerpa

Sudah beberapa pekan terakhir ini, saya menjnalankan rutinitas sebagai staf pengajar honorer di SMPN Satu Atap Koholifano, di Koholifano Kec. Pasir Putih. Sekolah yang bari didirikan sekitar 3 tahun yang lalu, memang memiliki pengajar yang kurang. Bahkan sangat kurang. tercatat, 3 orang yang berstatus PNS termasuk Kepala Sekolah. Akhirnya, intensitas belajar siswa menjadi kurang bahkan ada saja dalam seharian pak guru tidak ada. Syukurlah, ada beberapa guru honorer yang dengan sabar tetap meluangkan waktu untuk mengajar meskipun dengan honor yang sedikit. Kebanyakan guru honorer yang ada hanya sampai pada jenjang pendidikan Tingkat D-II. Yang S1 hanya beberapa orang. 3 orang termasuk saya rupanya. Yang perlu dibanggakan adalah semangat anak-anak untuk tetap hadir ke sekolah meskipun gurunya tidak masuk.
Apa yang menarik dari rutinitas saya mengaja ini? Yang pasti ada meskipun ini mungkin hanya menurut saya saja.
Jarak antara rumah dengan sekolah cukup jauh. Jaraknya sekitar 6 - 7 km. Kalau lewat darat, mungkin tidak terlalu melelahkan. Apalagi kalau ada kendaraan. Tapi yang masalah adalah antara rumah dan sekolah harus melewati lautan. Saya harus ke Pulau dengan menggunakan sampan kecil yang kami miliki. Sampan ini bisa muat 3 orang kalau lagi tidak kencang angin. Tapi kalau keras angin, mesti seorang saja. Dalam sepekan, saya mendapat jadwal 4 hari. Berarti, dalam sepekan itu pula saya harus menyebrang lautan selama 4 x 2 yakni 8 kali. Padahal, dipulau tersebut ada rumah lama yang cukup besar namun tak berpenghuni. Tapi saat ini saya masih enjoy untuk tetap tinggal di rumah (Pola) bersama dengan orang tua. Terlebih lagi, disana dekat dengan mesjid.
Dan Alhamdulillah, selama mengajar belum pernah terlambat masuk dalam waktu yang lama. Paling tinggi 5 menit. Itupun bukan karena saya yang terlambat datang melainkan siswanya yang terlambat datang.
Pagi hari, sekitar pukul 06.00 Wita dengan tas kecil yang tergantung, saya star dari rumah. Pagi hari, biasanya udara tenang. Tidak ada angin, tidak ada ombak dan tidak ada hujan sehingga rata-rata waktu tempuh sampai di sekolah hanya sekitar 45 menit. Yang sedkit bermasalah adalah saat pulang. JAm pulang saya sekitar pukul 10.00 - 12.00 WITA. Pada jam ini, biasanya sinar matahari cukup terik. Bahkan sudah sangat terik. Anginpun sudah bertiup dengan cukup kencang bahkan kencang dengan ombak yang tinggi. Ditengah terik matahari, kadang tak bertopi sehingga sinar mentari itu mengenai muka tanpa penghalang. Jari tangan sampai siku juga sering menjadi sasaran empuk sinar matahari. Demikian juga jari kaki sampai lutut.
Pernah, sekali di guyur hujan yang sangat lebat dengan angin kencang yang menghadang. Akan tetapi, dayung tetap terkayuh, perahu tetap melaju, serta semangat tetap membara untuk sampai ketujuan dengan hanya ditemani oleh lantunan ayat-ayat atau Surat-Surat yang dihafal. Sekalian Muraja'ah. Walaupun ombak menerpa, angin kencang meniup, aruspun tak kalah dan hujan yang sering mengguyur. Semua ini adalah tantangan yang harus di lewati demi mewujudkan cita-cita membina anak bangsa/adik-adik remaja di kampung kalembohano rea* agar mereka tetap semangat belajar dan terus belajar dalam meraih cita-cita meskipun insya Allah hanya beberapa bulan saja.

*. Tempat mengalirnya darah (tanah kelahiran)

Diantara Sifat Egois

Egois adalah Sifat mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri adalah sifat tercela. Adapun beberapa contoh pengamalan sifat egois adalah sebagai berikut:
Ketika kita mempunyai tugas kuliah atau sekolah. Kita tidak mengetahui tugas tersebut. Tentu saja, dengan segala daya dan upaya kita mencari jawaban atas tugas itu kepada orang yang mengetahuinya. Maka bertanyalah kita kepada teman yang mengetahui tugas tersebut. Sang temanpun berusaha memberikan jawaban atas tugas itu meskipun harus mengorbankan waktu dan energi lain. Inipun tidal hanya sekali. Nah, tibalah giliran tugas berikutnya. Kita mengetahui semua jawaban akan tugas itu. Semua seluk beluknya kita ketahui. AKn tetapi, giliran teman tadi bertanya, maka dengan sikap biasa-biasa saja, kita mengatakan tidak tahu. Kalaupun tidak mengatakan tidak tahu, bentuk diam juga merupakan respon dari ketidak mauan untuk memberi tahu.
Sepertinya, sama halnya dengan Pesan singkat (SMS). Sifat ego juga dapat terlihat dari cara merespon sebuah SMS. Cerita sederhananya seperti ini. Kita memiliki masalah terkait dengan kebutuhan hari-hari. Karena bingung, lantas bertanyalah kita kepada teman yang kita yakin bisa membantu atau masalah itu pernah dilaluinya dengan gampang. Melalui pesan singkat, bertanyalah kita kepada teman ini. Dengan berbagai keterbatasan, sang teman inipun menjawab setiap permasalahan kita tanpa mengeluh. Bahkan kadang harus sampai meminta pulsa teman/orang lain. Yang pasti, teman ini berkeinginan agar masalah kita dapat ringan atau terselesaikan. Giliran sang teman mengirim pesan kepada kita dengan pertanyaan sederhana namun penting bagi penanya, ternyata kita tidak menjawabnya meskipun kita memiliki pulsa. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Yang lebih parah lagi, dalam rentang antara pertanyaan teman itu, kita masih sempat bertanya kepada teman atas masalah kita.
Tentu, lain halnya dengan kita bertanya sembarang kepada teman. Dan pertanyaaan ini tidak dijawab oleh teman. Disana, kita tidak memiliki beban hutang budi. Bahkan mungkin saja ini menjadi sebuah pelajaran agar tidak mudah dan sembarangan untuk mengirim pesan kepada teman kecuali sesuatu yang penting.

Semoga Berguna

Salah orang, jadi salah Tingkah

Berada di negeri yang baru, adalah kesenangan tersendiri ketika berjumpa dengan orang-orang yang dikenal. Apalagi yang dikenal ini adalah bagian dari keluarga. Sehingga tentu saja sebagai orang baru di negeri itu, mata tidak pernah berhenti memandang kesana-sini, melihat orang-orang yang mungkin dikenal dari ratusan bahkan ribuan orang. Namun, sangat lain terasa ketika orang yang kita anggap kenal, ternyata bukan teman kita atau keluarga. Hanya mirip mukanya. Dan inilah yang terjadi ketika saya salah orang. Akhirnya jadi salah tingkah.
Seperti ini ceritanya:
Hari itu, adalah hari yang dinantikan oleh para perindu PNS untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa menjawab soal-soal yang diajukan. Hari itulah, hari Tes CPNS berlangsung. Seperti teman-teman yang lain, saya pun berangkat menuju lokasi Tes disalah satu SMPN di Butur. Waktu sudah hampir menunjukan pukul 08.00 pagi, dengan di antar oleh seorang teman. Memasuki lingkungan Sekolah, langsung saja pandangan mata menjelajah, mencari teman yang mungkin dikenal. Walhasil, salah seorang teman kutemukan. Kakipun melangkah menuju sang teman untuk paling tidak bercerita sekilas menanyakan ruangan ujian. Ternyata, sang temanpun tidak tahu dimana ruangan ujian karena memang belum di tempel. Kutanyakanlah teman-teman lain yang sama-sama tes di tempat ini. Ternyata, ada juga salah seorang senior yang berada tidak jauh dari teman ini. Tidak lama kemudian, saya pamit untuk menuju ke teman yang satu ini (senior).
Ketika bertemu, sang senior terkejut. Rupanya kita sama-sama bertemu di kota ini. Bercerita agak panjang lebar sambil sesekali tertawa. Dari cerita sama teman ini, ku tahu kalau alumni Fisika yang tes di tempat ini sekitar 8 orang. Sambil bercerita, kembali pandangan ini kuarahkan pada kerumunan orang dengan harapan bertemu dengan keluarga atau orang sekampung halaman.
Akhirnya saya menemukan seorang yang mirip dengan keluarga dan pernah tinggal bersama dahulu ketika masih di bangku SMA. Maka pandangan matapun tidak lepas darinya dengan harapan apabila pandangan mata bertemu, maka dia langsung dengan mudah mengenal saya. Ternyata, dugaan saya meleset. Dia hanya sekali-kali mengarahkan mata ke saya. Sama sekali tidak mencerminkan kalau dia mengenal saya.
Penasaran, tentu saja....
Saya harus bertemu dengan dia.
Kulihat dia pergi. Maka saya pamit sama teman untuk menyusulnya. Ternyata dia menuju ke motornya yang sedang di parkir. Sayapun menyusulnya sampe ke tempat itu dan memanggil namanya. Tidak ada respon. Hanya sejenak dia tersenyum ke saya sambil menjalankan motornya. Kutanya dia, "Hendak kemana?" dia menjawab "Mau pulang dulu". Saya tegur lagi, ternyata dia tidak menjawab. Akhirnya, Saya jadi salah tingkah. Rupanya dia bukan orang yang saya kenal. Semula saya pkir tidak mungkin dia akan melupakan saya. Apakah karena penampilan saya yang beda? Tidak mungkin... Orang yang saya kenal tidak mungkin melupakan saya. Berarti, orang ini bukanlah orang yang saya kenal.
Begitulah jadinya kalau menegur orang yang tidak dikenal dengan teguran yang sok kenal. Padahal dia belum tentu orang yang dikenal itu. Mungkin hanya mirip. salah tingkah jadinya. Syukur tidak banyak orang yang perhatikan. Kalau banyak?
Mudah-mudahan ada hikmah yang terpetik dari kesalahan ini.

Sederhana belum Tentu sama bagi Semua Orang

Beberapa pekan yang lalu, saya mendapatkan sebuah surat permohonan dari seorang teman yang juga seorang ketua himpunan pada salah satu program studi di FMIPA Unhalu. Surat permohonan itu berisi tentang permintaan agar saya memberikan Materi Pelatihan Komputer dan Teknologi Informasi untuk Tenaga Pengajar Se-Kota Kendari. Tentu saja, dengan senang hati saya menerima permohonan itu karena ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga. Akan sangat susah bagi saya untuk mendapatkan kesempatan seperti ini untuk kedua kalinya. Dalam lampiran surat itu terlihat jadwal Materi. Dan ternyata, saya mendapatkan materi Equation di Microsoft Word 2007. Termasuk didalamnya dasar-dasar Microsoft Word 2007. Walaupun saya hanya mendapatkan materi untuk Guru-guru SD, namun hal itu bukanlah sebuah masalah karena materinya cukup dikuasai. Juga karena saya menganggap materi ini merupakan materi baru buat guru-guru SD. Apalagi Microsoft Office 2007 bagi Guru SD sepertinya adalah sesuatu yang baru. Saya mendapatkan jadwal sebanyak dua kali.
Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan informasi bahwa Pelatihan sepertinya akan diundur karena peserta masih sangat sedikit. Apalagi rencana kegiatan itu adalah sehari setelah Pemilihan Presiden RI. Tentu saja, akan sangat sulit untuk mendapatkan peserta sesuai dengan yang ditargetkan.
Mendengar informasi ini, akhirnya jadwal pembuatan handoutpun menjadi tertunda. Sibuk dengan aktivitas lain walau aktifitas itu sederhana. Padahal, informasi lain yang saya peroleh dari panitia bahwa handout paling tidak masuk kepanitia untuk di perbanyak adalah dua hari sebelum acara dimulai. Karena saya tidak mendapatkan kejelasan waktu dari panitia, maka saya belum membuat materi itu. Namun karena sebuah tuntunan, maka materi itu dibuat 2 hari sebelum acara dimulai.
Rupanya, panitia memiliki cara tersendiri untuk menggaet peserta. Alhasil, peserta kegiatan pelatihan itu sekitar 40 orang lebih. Sehari sebelum acara dimulai, saya mendapatkan pesan singkat dari panitia (SMS) bahwa mereka akan bertemu dengan pada malam hari. Saya tidak menjawab pesan itu karena saya tidak memiliki pulsa. Sore harinya saya menuju ke kampus karena ada seorang teman yang meminta tolong untuk dibuatkan sebuah web sederhana dengan menggunakan software eXe. Dan ternyata, anggapan saya tentang web yang sangat sederhana itu merupakan sebuah kesalahan karena sesederhana apapun itu, jika tidak dibuat tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan ini berarti teman tidak akan mendapatkan nilai ujian final.
Malam harinya, saya bertemu dengan panitia. Setelah mendapatkan laporan kenyataan yang ada beberapa saat, panitia mengatakan bahwa untuk kami (dari kalangan mahasiswa dan senior) yang mendapatkan materi dijadwal sebelumnya akan dijadikan sebagai pendamping. Mendampingi materi dari Bapak dan Ibu Dosen yang tentu saja sudah bergelar Master dan bahkan ada seorang Doktor. Menanggapi masalah ini, maka saya mengatakan jikalau itu kenyataanya, maka tak apa-apa. Cerita tentang materipun berlanjut sampai pada sebuah informasi bahwa panitia belum mengkonfirmasi salah seorang pemateri tentang kesediaanya. Kebetulan, materinya sama dengan materi saya sebelumnya. Panitia mengatakan, jikalau pemateri tidak bersedia, maka antum (saya) sebagai penggantinya. Malam itu, kami mencoba menghubungi pemateri dan ternyata beliau sedang berada dikampung. Akhirnya, kesimpulan yang ada bahwa materi untuk microsoft Word adalah saya.
Pada malam harinya, tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan karena ketika sampai dirumah ternyata Laptop kesayangan sedang dibawa oleh sang adik ke kamar temannya. Tapi tak masalah karena materi yang akan diajarkan sudah sering dilakukan. Rencana untuk cepat tidur karena lelah rupanya tidak jadi karena bercerita lewat SMS dengan seorang teman sampai pukul 1 malam. Lumayan, sampe larut.
Esok harinya, pikiran ini sudah mulai terganggu karena pemikiran akan sederhananya materi yang akan saya sampaikan. Apakah materi ini merupakan materi yang baru buat peserta ataukah mereka sudah terbiasa melakukannya? lantas bagaimana kira-kira jadinya ketika ternyata peserta lebih banyak tahu tentang materi dan akan mengatakan kalau pematerinya tidak berbobot?.
Sekitar pukul 09.30, materipun dimulai. Materi-materi yang kami buat adalah materi yang sangat sederhana karena bagi mereka yang telah lama bergaul dengan komputer bukanlah sesuatu yang asing. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi bukanlah seperti apa yang pernah saya bayangkan. Betapa tidak, ternyata masih banyak diantara peserta yang masih harus benar-benar diarahkan karena mereka tidak mengetahuinya. Sampai beberapa saat lamanya, ternyata mereka benar-benar harus bertanya tentang apa yang harus dilakukan walaupun sudah cukup dijelaskan materinya dengan jelas. Sampai materi berakhir, pertanyaan-pertanyaan itu terus berlanjut.
Ternyata, banyak hal yang dianggap sederhana belum tentu itu adalah sesuatu yang sederhana karena anggapan sederhana menurut seseorang belum tentu itu adalah hal yang sederhana menurut orang lain.
Powered by Blogger