Lemah kontrol, picu lemahnya kualitas
Hari ini adalah hari pertamaku untuk kembali mengajar disekolah setelah hampir 2 bulan Istrahat karena ada undangan mengisi Materi di Kendari dan Libur Ramadhan. Kini, aktivitas mengajar itu harus kembali dilakoni untuk mengisi waktu serta menguatkan ilmu yang telah dipelajari. Kata Orang, salah satu cara untuk menguatkan ilmu yang dimiliki adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Rumahku dengan sekolah cukup jauh dan harus melewati lautan dengan mendayung. Waktu tempuh jika mendayung, sekitar 40 menit. Kalau gunakan ketinting, waktu tempuhnya sekitar 10 menit sudah sampai dipulau tersebut. Lumayan….! Olahraga pagi dengan mendayung, menguatkan otot-otot lengan. Sesampainya di pulau itu, kebetulan disana ada rumah lama yang saat ini ditinggali oleh nenek dan family lain. Kurebahkan diri sejenak sebelum siap-siap ke sekolah.
Waktu telah menunjukan pukul 07.43 Wita ketika sampai disekolah. Sebagian siswa sedang berolahraga. Main Sepak raga (Takraw). Aku langsung menuju kantor yang kebetulan sudah terbuka (sering saya tiba disekolah, kantor masih terkunci) dan membaca buku TIK yang yang ada diatas meja. Beberapa saat kemudian, salah seorang guru tidak tetap juga datang. Pada hari senin, jam belajar dimulai pada pukul 08.00 Wita karena antara pukul 07.00-08.00 adalah waktu upacara. Akan tetapi, selama saya mengajar ditempat itu, belum pernah saya dapatkan adanya upacara bendera. Siapa yang akan menjadi Pembina upacara? Kepala sekolah sangat jarang muncul disekolah. Guru tetap juga sama. Bahkan lebih parah. Guru tidak tetap? Siapa? Masing-masing datang saat waktu ngajar tiba.
Tepat pukul 08.00 Wita menurut jam handphoneku, kumasuk kelas untuk dan seperti biasa melakukan sweeping pakaian yang keluar dan rambut-rambut yang panjang serta pirang agar dicukur. Memang, selama ini aku menyaksikan kenyataan bahwa siswa-siswa kami memiliki kekurangan dalam banyak hal. Entah mungkin karena disengaja atau karena kurang penegakan disiplin atau karena factor lain, kesimpulan itu belum bisa kupastikan. Kesimpulan sementara adalah karena kurangnya control dan ketegasan dari pihak sekolah untuk memberikan sanksi kepada siswa yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap aturan sekolah.
Usai mengajar, kumasuk kembali ke kantor untuk menanti jam berikutnya sambil mendengarkan lantunan suara merdu dari Syaikh Muhammad Al Luhaidan di handphone NEXCOM kesayangan.
Selama di sekolah, pikiran ini disibukkan dengan kenyataan bahwa sekolah tempat saya mengajar ini terdapat sangat banyak kekurangan yang perlu perbaikan secapatnya. Kadang-kadang tak habis piker, apakah SMP Satap ini dibangung hanya untuk menampung siswa di kampung saja agar mereka sekolah dan mendapatkan dana BOS serta BOP dan dana lain ataukah memang untuk membina siswa menjadi berkualitas? Yang berkualitasnya siswa merupakan cermin meningkatnya kualitas pendidikan?
Memang, kita sangat mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bahkan kitapun harus menjadi elemen yang membantu pemerintah dalam proses peningkatan kualitas itu. Tetapi, apakah kualitas pendidikan itu akan meningkat jika tidak ditopang dengan tenaga pendidik yang berkualitas sesuai dengan profesinya? Apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika tidak ada pembangun bagi motivasi siswa untuk maju? Apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika tidak ada interaksi yang baik antara tenaga pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran maupun pembinaan mental dan potensi peserta didik? Dan apakah kualitas pendidikan akan meningkat jika para pelaku pendidikan seperti kepala sekolah tidak melakukan control terhadap sekolahnya dimana dia memimpin?
Jujur, disekolah tempat saya mengajar masih jauh dari kualitas yang kuat. Tenaga pendidik yang mestinya menjadi pengayom dan pengontrol aktivitas siswa sangat kurang. Bahkan hampir tidak ada. Tercatat, PNS hanya 2 orang termasuk kepala sekolah. Satu guru PNS sudah hampir 4 bulan belum Nampak disekolah setelah selesainya ujian Nasional. Kepala sekolah juga demikian. Dari pengumuman kelulusan sampai sekarang belumlah juga menjenguk murid2nya. Dimana fungsi control sang pemimpin? Bukankah ini akan menyebabkan lemahnya motivasi guru lain dalam menjalankan tugasnya? Bukankah akan menimbulkan perasaan tertentu dari siswa bahwa mereka tidak diperhatikan layaknya sekolah lain? Mestinya, kepala sekolah dan guru tetap intens memberikan control kepadal seluruh perangkat yang ada disekolah. Karena, Guru tidak tetap tidak memiliki hak untuk membuat kebijakan umum maupun khusus jika tidak disetujui dan diketahui oleh kepala sekolah. Lalu, dimanakah fungsi control itu saat ini? Apakah memang fungsi itu tidak ada? Ataukah fungsi itu hanyalah sebuah formalitas sebagai syarat berdirinya sebuah sekolah? JIka demikian adanya, apa guna ada sekolah? Apa guna pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk pembangunan fisik pendidikan jika ternyata hanya menjadi sarana keuntungan pihak tertentu saja dan juga menjadi sarana lemahnya kualitas pendidikan?
Berani saya katakan bahwa tidak adanya atau kurangnya fungsi control dari pimpinan menjadi sebab lemahnya kualitas pendidikan. Apalagi di sekolah yang tenaga pendidiknya kurang. Baik kurang dari sisi pengalaman maupun profesi. Pimpinan, yang memiliki fungsi utama sebagai pengatur jalannya proses pendidikan di sekolah harusnya menjadi pioner dalam peningkatan kualitas. Harusnya menjadi solusi bagi setiap permasalahan disekolah. Harusnya menjadi tempat mengadu akan kekurangan aspek-aspek penunjang pendidikan. Akan tetapi, dimana siswa dan guru harus mengadu jika pimpinan tidak ada di sekolah selama berbulan-bulan? Dimana siswa dan guru mencari solusi jika sang pimpinan tidak menampakkan dirinya di tempat dimana bertugas? Kalaupun datang hanya sehari atau dua hari saja lalu kembali ke asal? Dimana peran sang pimpinan sebagai pioneer jika pimpinan apatis terhadap kualitas pendidikan dimana dia memimpin?
Kalaupun ada yang diberikan kewenangan untuk mengelola sekolah selama pimpinan tidak ada, tetap saja pimpinan yang dibutuhkan. Seberapa besar peran orang yang diberikan mandate. Sedikit sekali.
Tulisan ini sama sekali bukan untuk menceritakan buruknya tingkat pendidikan disekolah yang lemah control sang pemimpin. Akan tetapi agar tulisan ini menjadi perhatian bagi para pemerhati pendidikan. Agar menjadi bahan perhatian bagi pemerintah, kepala sekolah, guru dan siswa bahwasanya ada trigger yang menyebabkan kualitas pendidikan itu lemah. Kuatnya keinginan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus juga mempertimbangakan aspek-aspek jangka panjang yang mungkin kadang terabaikan. Para siswa yang jauh dari control dan ayoman pimpinan dan tenaga pengajar berkualitas hendaknya bersabar akan perlakuan ini. Tetaplah belajar dan terus belajar agar cita-cita anda tercapai.