Salah orang, jadi salah Tingkah
Berada di negeri yang baru, adalah kesenangan tersendiri ketika berjumpa dengan orang-orang yang dikenal. Apalagi yang dikenal ini adalah bagian dari keluarga. Sehingga tentu saja sebagai orang baru di negeri itu, mata tidak pernah berhenti memandang kesana-sini, melihat orang-orang yang mungkin dikenal dari ratusan bahkan ribuan orang. Namun, sangat lain terasa ketika orang yang kita anggap kenal, ternyata bukan teman kita atau keluarga. Hanya mirip mukanya. Dan inilah yang terjadi ketika saya salah orang. Akhirnya jadi salah tingkah.
Seperti ini ceritanya:
Hari itu, adalah hari yang dinantikan oleh para perindu PNS untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa menjawab soal-soal yang diajukan. Hari itulah, hari Tes CPNS berlangsung. Seperti teman-teman yang lain, saya pun berangkat menuju lokasi Tes disalah satu SMPN di Butur. Waktu sudah hampir menunjukan pukul 08.00 pagi, dengan di antar oleh seorang teman. Memasuki lingkungan Sekolah, langsung saja pandangan mata menjelajah, mencari teman yang mungkin dikenal. Walhasil, salah seorang teman kutemukan. Kakipun melangkah menuju sang teman untuk paling tidak bercerita sekilas menanyakan ruangan ujian. Ternyata, sang temanpun tidak tahu dimana ruangan ujian karena memang belum di tempel. Kutanyakanlah teman-teman lain yang sama-sama tes di tempat ini. Ternyata, ada juga salah seorang senior yang berada tidak jauh dari teman ini. Tidak lama kemudian, saya pamit untuk menuju ke teman yang satu ini (senior).
Ketika bertemu, sang senior terkejut. Rupanya kita sama-sama bertemu di kota ini. Bercerita agak panjang lebar sambil sesekali tertawa. Dari cerita sama teman ini, ku tahu kalau alumni Fisika yang tes di tempat ini sekitar 8 orang. Sambil bercerita, kembali pandangan ini kuarahkan pada kerumunan orang dengan harapan bertemu dengan keluarga atau orang sekampung halaman.
Akhirnya saya menemukan seorang yang mirip dengan keluarga dan pernah tinggal bersama dahulu ketika masih di bangku SMA. Maka pandangan matapun tidak lepas darinya dengan harapan apabila pandangan mata bertemu, maka dia langsung dengan mudah mengenal saya. Ternyata, dugaan saya meleset. Dia hanya sekali-kali mengarahkan mata ke saya. Sama sekali tidak mencerminkan kalau dia mengenal saya.
Penasaran, tentu saja....
Saya harus bertemu dengan dia.
Kulihat dia pergi. Maka saya pamit sama teman untuk menyusulnya. Ternyata dia menuju ke motornya yang sedang di parkir. Sayapun menyusulnya sampe ke tempat itu dan memanggil namanya. Tidak ada respon. Hanya sejenak dia tersenyum ke saya sambil menjalankan motornya. Kutanya dia, "Hendak kemana?" dia menjawab "Mau pulang dulu". Saya tegur lagi, ternyata dia tidak menjawab. Akhirnya, Saya jadi salah tingkah. Rupanya dia bukan orang yang saya kenal. Semula saya pkir tidak mungkin dia akan melupakan saya. Apakah karena penampilan saya yang beda? Tidak mungkin... Orang yang saya kenal tidak mungkin melupakan saya. Berarti, orang ini bukanlah orang yang saya kenal.
Begitulah jadinya kalau menegur orang yang tidak dikenal dengan teguran yang sok kenal. Padahal dia belum tentu orang yang dikenal itu. Mungkin hanya mirip. salah tingkah jadinya. Syukur tidak banyak orang yang perhatikan. Kalau banyak?
Mudah-mudahan ada hikmah yang terpetik dari kesalahan ini.
Seperti ini ceritanya:
Hari itu, adalah hari yang dinantikan oleh para perindu PNS untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa menjawab soal-soal yang diajukan. Hari itulah, hari Tes CPNS berlangsung. Seperti teman-teman yang lain, saya pun berangkat menuju lokasi Tes disalah satu SMPN di Butur. Waktu sudah hampir menunjukan pukul 08.00 pagi, dengan di antar oleh seorang teman. Memasuki lingkungan Sekolah, langsung saja pandangan mata menjelajah, mencari teman yang mungkin dikenal. Walhasil, salah seorang teman kutemukan. Kakipun melangkah menuju sang teman untuk paling tidak bercerita sekilas menanyakan ruangan ujian. Ternyata, sang temanpun tidak tahu dimana ruangan ujian karena memang belum di tempel. Kutanyakanlah teman-teman lain yang sama-sama tes di tempat ini. Ternyata, ada juga salah seorang senior yang berada tidak jauh dari teman ini. Tidak lama kemudian, saya pamit untuk menuju ke teman yang satu ini (senior).
Ketika bertemu, sang senior terkejut. Rupanya kita sama-sama bertemu di kota ini. Bercerita agak panjang lebar sambil sesekali tertawa. Dari cerita sama teman ini, ku tahu kalau alumni Fisika yang tes di tempat ini sekitar 8 orang. Sambil bercerita, kembali pandangan ini kuarahkan pada kerumunan orang dengan harapan bertemu dengan keluarga atau orang sekampung halaman.
Akhirnya saya menemukan seorang yang mirip dengan keluarga dan pernah tinggal bersama dahulu ketika masih di bangku SMA. Maka pandangan matapun tidak lepas darinya dengan harapan apabila pandangan mata bertemu, maka dia langsung dengan mudah mengenal saya. Ternyata, dugaan saya meleset. Dia hanya sekali-kali mengarahkan mata ke saya. Sama sekali tidak mencerminkan kalau dia mengenal saya.
Penasaran, tentu saja....
Saya harus bertemu dengan dia.
Kulihat dia pergi. Maka saya pamit sama teman untuk menyusulnya. Ternyata dia menuju ke motornya yang sedang di parkir. Sayapun menyusulnya sampe ke tempat itu dan memanggil namanya. Tidak ada respon. Hanya sejenak dia tersenyum ke saya sambil menjalankan motornya. Kutanya dia, "Hendak kemana?" dia menjawab "Mau pulang dulu". Saya tegur lagi, ternyata dia tidak menjawab. Akhirnya, Saya jadi salah tingkah. Rupanya dia bukan orang yang saya kenal. Semula saya pkir tidak mungkin dia akan melupakan saya. Apakah karena penampilan saya yang beda? Tidak mungkin... Orang yang saya kenal tidak mungkin melupakan saya. Berarti, orang ini bukanlah orang yang saya kenal.
Begitulah jadinya kalau menegur orang yang tidak dikenal dengan teguran yang sok kenal. Padahal dia belum tentu orang yang dikenal itu. Mungkin hanya mirip. salah tingkah jadinya. Syukur tidak banyak orang yang perhatikan. Kalau banyak?
Mudah-mudahan ada hikmah yang terpetik dari kesalahan ini.