Kubiarkan tantangan itu Menerpa
Sudah beberapa pekan terakhir ini, saya menjnalankan rutinitas sebagai staf pengajar honorer di SMPN Satu Atap Koholifano, di Koholifano Kec. Pasir Putih. Sekolah yang bari didirikan sekitar 3 tahun yang lalu, memang memiliki pengajar yang kurang. Bahkan sangat kurang. tercatat, 3 orang yang berstatus PNS termasuk Kepala Sekolah. Akhirnya, intensitas belajar siswa menjadi kurang bahkan ada saja dalam seharian pak guru tidak ada. Syukurlah, ada beberapa guru honorer yang dengan sabar tetap meluangkan waktu untuk mengajar meskipun dengan honor yang sedikit. Kebanyakan guru honorer yang ada hanya sampai pada jenjang pendidikan Tingkat D-II. Yang S1 hanya beberapa orang. 3 orang termasuk saya rupanya. Yang perlu dibanggakan adalah semangat anak-anak untuk tetap hadir ke sekolah meskipun gurunya tidak masuk.
Apa yang menarik dari rutinitas saya mengaja ini? Yang pasti ada meskipun ini mungkin hanya menurut saya saja.
Jarak antara rumah dengan sekolah cukup jauh. Jaraknya sekitar 6 - 7 km. Kalau lewat darat, mungkin tidak terlalu melelahkan. Apalagi kalau ada kendaraan. Tapi yang masalah adalah antara rumah dan sekolah harus melewati lautan. Saya harus ke Pulau dengan menggunakan sampan kecil yang kami miliki. Sampan ini bisa muat 3 orang kalau lagi tidak kencang angin. Tapi kalau keras angin, mesti seorang saja. Dalam sepekan, saya mendapat jadwal 4 hari. Berarti, dalam sepekan itu pula saya harus menyebrang lautan selama 4 x 2 yakni 8 kali. Padahal, dipulau tersebut ada rumah lama yang cukup besar namun tak berpenghuni. Tapi saat ini saya masih enjoy untuk tetap tinggal di rumah (Pola) bersama dengan orang tua. Terlebih lagi, disana dekat dengan mesjid.
Dan Alhamdulillah, selama mengajar belum pernah terlambat masuk dalam waktu yang lama. Paling tinggi 5 menit. Itupun bukan karena saya yang terlambat datang melainkan siswanya yang terlambat datang.
Pagi hari, sekitar pukul 06.00 Wita dengan tas kecil yang tergantung, saya star dari rumah. Pagi hari, biasanya udara tenang. Tidak ada angin, tidak ada ombak dan tidak ada hujan sehingga rata-rata waktu tempuh sampai di sekolah hanya sekitar 45 menit. Yang sedkit bermasalah adalah saat pulang. JAm pulang saya sekitar pukul 10.00 - 12.00 WITA. Pada jam ini, biasanya sinar matahari cukup terik. Bahkan sudah sangat terik. Anginpun sudah bertiup dengan cukup kencang bahkan kencang dengan ombak yang tinggi. Ditengah terik matahari, kadang tak bertopi sehingga sinar mentari itu mengenai muka tanpa penghalang. Jari tangan sampai siku juga sering menjadi sasaran empuk sinar matahari. Demikian juga jari kaki sampai lutut.
Pernah, sekali di guyur hujan yang sangat lebat dengan angin kencang yang menghadang. Akan tetapi, dayung tetap terkayuh, perahu tetap melaju, serta semangat tetap membara untuk sampai ketujuan dengan hanya ditemani oleh lantunan ayat-ayat atau Surat-Surat yang dihafal. Sekalian Muraja'ah. Walaupun ombak menerpa, angin kencang meniup, aruspun tak kalah dan hujan yang sering mengguyur. Semua ini adalah tantangan yang harus di lewati demi mewujudkan cita-cita membina anak bangsa/adik-adik remaja di kampung kalembohano rea* agar mereka tetap semangat belajar dan terus belajar dalam meraih cita-cita meskipun insya Allah hanya beberapa bulan saja.
*. Tempat mengalirnya darah (tanah kelahiran)
Apa yang menarik dari rutinitas saya mengaja ini? Yang pasti ada meskipun ini mungkin hanya menurut saya saja.
Jarak antara rumah dengan sekolah cukup jauh. Jaraknya sekitar 6 - 7 km. Kalau lewat darat, mungkin tidak terlalu melelahkan. Apalagi kalau ada kendaraan. Tapi yang masalah adalah antara rumah dan sekolah harus melewati lautan. Saya harus ke Pulau dengan menggunakan sampan kecil yang kami miliki. Sampan ini bisa muat 3 orang kalau lagi tidak kencang angin. Tapi kalau keras angin, mesti seorang saja. Dalam sepekan, saya mendapat jadwal 4 hari. Berarti, dalam sepekan itu pula saya harus menyebrang lautan selama 4 x 2 yakni 8 kali. Padahal, dipulau tersebut ada rumah lama yang cukup besar namun tak berpenghuni. Tapi saat ini saya masih enjoy untuk tetap tinggal di rumah (Pola) bersama dengan orang tua. Terlebih lagi, disana dekat dengan mesjid.
Dan Alhamdulillah, selama mengajar belum pernah terlambat masuk dalam waktu yang lama. Paling tinggi 5 menit. Itupun bukan karena saya yang terlambat datang melainkan siswanya yang terlambat datang.
Pagi hari, sekitar pukul 06.00 Wita dengan tas kecil yang tergantung, saya star dari rumah. Pagi hari, biasanya udara tenang. Tidak ada angin, tidak ada ombak dan tidak ada hujan sehingga rata-rata waktu tempuh sampai di sekolah hanya sekitar 45 menit. Yang sedkit bermasalah adalah saat pulang. JAm pulang saya sekitar pukul 10.00 - 12.00 WITA. Pada jam ini, biasanya sinar matahari cukup terik. Bahkan sudah sangat terik. Anginpun sudah bertiup dengan cukup kencang bahkan kencang dengan ombak yang tinggi. Ditengah terik matahari, kadang tak bertopi sehingga sinar mentari itu mengenai muka tanpa penghalang. Jari tangan sampai siku juga sering menjadi sasaran empuk sinar matahari. Demikian juga jari kaki sampai lutut.
Pernah, sekali di guyur hujan yang sangat lebat dengan angin kencang yang menghadang. Akan tetapi, dayung tetap terkayuh, perahu tetap melaju, serta semangat tetap membara untuk sampai ketujuan dengan hanya ditemani oleh lantunan ayat-ayat atau Surat-Surat yang dihafal. Sekalian Muraja'ah. Walaupun ombak menerpa, angin kencang meniup, aruspun tak kalah dan hujan yang sering mengguyur. Semua ini adalah tantangan yang harus di lewati demi mewujudkan cita-cita membina anak bangsa/adik-adik remaja di kampung kalembohano rea* agar mereka tetap semangat belajar dan terus belajar dalam meraih cita-cita meskipun insya Allah hanya beberapa bulan saja.
*. Tempat mengalirnya darah (tanah kelahiran)